Alyo WoCi

Alyo WoCi

Temukan Kami

Search

Kamis, 23 Juni 2011

GERAKAN SAYANG IBU


 Gerakan sayang ibu(GSI) merupakan produk kesepakatan inter sektoral yang terdiri dari berbagai Dinas/instansi Pemerintah,organisasi Profesi, LSM serta Organisasi permpuan dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya. Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan gerakn untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil,melahirkan dan nifas,diantaranya dengan menghapus pandangan-pandangan yang sselama ini bias gender,diskriminatif dalam bidang Hak dan Kesehatan Reproduksi.
Gerakan Sayang Ibu(GSI) telah dicanangkan oleh Presiden RI pada tahun 1996 di Kabupaten Karang Anyar Jawa Tengah. Sejak saat itu pelaksanan Gerakan Sayang Ibu merupakan gerakan nasional untuk mempercepat penuruna angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan ibu nifas(AKI). Disamping itu Gerakan Sayang Ibu (GSI) diarahkan untuk pengarusutamaan gender di lingkungan masyarakat dan keluarga. Pada awalnya Gerakan Sayang Ibu (GSI) dilaksankan di 8 pripinsi yang kemudian berkembang ke seluruh propinsi di indonesia.

Maksud Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan gerakan masyarakat bersama dengan pemerintah. Selanjutnya yang dimaksud Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah:
“suatu geraakan yang dilaksanankan oleh masyarakat, bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkkan perbaikan kualitas hidup perempuan (sebagai sumber daya manusia) melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta kematian bayi”
Dari pengertian tersebut diatas, terdapat 3 unsur pokok yang sangat penting, yaitu:
Pertama : Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bersama dengan pemerintah.
Artinya : Pelaksananaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) melibatkan masyarakat secara aktis, tidak hanya sebagai sasaran, tetapi juga sebagi pelaku. Keikutsertaan masyaraakat dalam Gerakan Sayang Ibu merupakan pengalihan pengelola dan tanggung jawab secara bertahap dari pemerintah kepada masyarakat. Proses ini membutuhkan waktu yang panjang, konsisten dan intensif. Dalam proses ini, keterlibatkan sektoral,pemerintah daerah sangat dubutuhkan sekali.
Kedua : Geraakan Sayang Ibu (GSI) mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan sebagai sumber daya manusia.
Artinya : Perempuan yang selama ini telah mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan diskriminatif dalam bebagai bidang, tyermasuk dalam bidang Kesehatan Reproduksi dan telah menimbulakan berbagai masalah sampai menyebabkan kematian ibu yang tinggi karena hamil,malahirkan dan nifas. Perlakuan tidak adil tersebut telah menyebabkan perempuan tertinggal dalam berbagai bidang kegiatan kehidupan jika dibandingkan dengan mitra laki-laki. Gerakan Sayang Ibu melaui pendekatan pemberdayaan masyarakat, terutama para laki-laki agar memperhatikan hak-hak reproduksi perempuasn serta melindungi dengan cara membantu memberikan perawatan kepada ibu-ibu hamil, melahirkan dan nifas. Dengan hamil dan melahirkan dalm kondisi yang sehat serta direncanakan dengan baik, akan memberikan peliang para ibu-ibu tersebut untuk mengembangkan potensi dirinya dengan baik.
Disamping mengembangkan potensi dirinya, ibu-ibu tersebut dapat merawat bayi dilahirkannya dengan baik, diantaranya dengan memberikan ASI Esklusif yang sangat dibutuhkan oleh bayi serta merawat kesehatan bayi yang dilahirkan dengan baik. Hal ini akan berdampak dalam usaha menurunkan angka kematian bayi.
Ketiga : Gerakan Sayang Ibu (GSI) bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu hamil, melahirkan dan nifas dan bayi.
Artinya : kematian ibu hamil, melahirkan dan nifas di indonesia sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup, atau terdapat sekitar18.000 perempuan meninggal dunia setiap tahun dan kondisi ini merupakan angka kematian ibu tertinggi di ASEAN. Kondisi tersebut, sangatmenghambat upaya pembangunan, khusunya dalam pelaksanaan program peningkatan kualitas hidup perempuan.
Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) melalui GSI untuk menyadarkan masyarakat dan keluarga mengenai pentingnya memahami tiga fase terlambat yang dapat menyebebkan kematian ibu,yaitu (WHO, 1998):
Terlambat satu : terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan baik secara individu, keluarga atau keduanya.
Faktor-faktor yang mempengaruhui fase satu ini adalah terlambat mengenali kehamilan dalam situasi gawat.jauh dari fasilitas kesehtan, biaya, persepsi menganai kualitas dan efetifitas dari perawatan kesehtan.
Terlambat kedua: terlambat mendapat pelayanan fasilitas pelayana kesehatan
Faktor-faktor yang mempengaruhui fase dua ini lama pengangkutan, kondisi jalan, dan biaya transportasi.
Terlambat ketiga : terlambat mendapatkan pelayanan adekuat
Faktor-faktor yang mempengaruhi fase tiga ini adalah terlambat mendapatkan pelayanan pertama kali dirumah sakit (rujukan). Keterlambatan ini dipengaruhi oleh kelengkapan peralatan Rumah Sakit, ketersedian Obat, dan ketersediaan tenaga kesehatan terlatih.
Disamping tiga terlambat, faktor lain yang mempunyai pengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu adalah 4 TERLALU,yaitu:
• Terlalu muda untuk hamil
• Teralu tua untuk hamil
• Terlalu sering untuk hamil
• Terlalu banyak untuk melahirkan
Empat terlau terssebut, disamping mempunyai pengaruh terhadap angka kematian ibu, juga mempunyai dampak terhadap angka kematian bayi dan pertumbuhan kesehatan yang dilahirkan.
Pendekatan Pengembangan Masyarakat
Massalah Kesehatan Reproduksi di indonesia akan sulit ditembus secara tuntas, apabila kita hannya berbicara soal pelayanan saja, karena masalah sosial budaya masyarakat memepunyai pengaruh yang sangat besar. Dengan demekian dapat diutarakan dalam uraian diatas, Gerakan sayang Ibu kegiatannya lebih banyak menitikberatkan pada mobilisasi potensi masyarakat dengan model pendekatan pengembangan masyrakat (community delevoment approach) yang basisi operasional terletak pada pembentukan mminat bersama dan konsessus yang bulat. Yang dimaksud dengan konsesus atau mufakat adalah suatu keadaan dimana warga masyarakat telah setuju atau mufakat terhadap nilal-nilal atau upaya program yang akan dilaksanakan bersama.
Mengubah Inovasi
Gerakan Sayang Ibu yang kegiatannya ditunjang oleh tim pokja dan tim satgas GSI telah mampu mendorong masyarakat untuk berperan secra aktif dan mengembangkan pontesinya dengan melahirkan ide-ide kreatif dalam melaksanakan GSI di daerahnya, seperti:
• Pengadan Dana Bersalin.
Dana bersalin yang merupakan usaha swadaya masyarakat ini, ditujukan bagi Keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera 1, yang tidak mampu untukmempenyai persalinan pada temat-tempat persalinan kesehatan.
• Donor Darah.
Dalam memenuhi kebutuhan donor untuk bantu persalinan, dalam kegiatan GSI warga masyarakat telah mengembangkan berbagai cara, diantaranya seperti yang terdapat di malang jawa timur, masyrakat malang khususunya kecamatan singosari membentuk kelompok donor darah bagi ibu melahirkan,yang terdiri dari laki-laki dewasa.
• Ambulan desa
Seringkali masalah kebutuhan transportasi untuk membantu ibu hami yang akan melahirkan menjadi masalah yang sangat penting,maka dalam menanggulanginya permasalahan tersebut, warga masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Sayang Ibu telah melakukan terbosan dengan menyediakan Ambulan Desa.
• Pondok sayang Ibu.
Pondok sayang ibu pertama kali muncul atas ide PKK lampung. Untuk membantu ibu-ibu hamil yang akan melahirkan, tetapi tempat tinggal jauh tempat pelayanan.
• Pendataan Ibu Hamil.
Untukmendeteksi ibu hamil khususnya yang beresiko tinggi dan untuk mengetahui ibu hamil yang hendak melahirkan, warga masyarakat yang terbergabung dalam kegiatan GSI mengadakan pendataan ibu hamil dan sekaligus dicantumkan dalam peta. Bagi ibu hamil yang beresiko tinggi diberi tanda biru, untuk yang normal diberi tanda kuning. Ide ini dikembangkan dari sumatra selatan dan telah banyak dikembangkan didaerah lain.
• Kemetriaan Bidan-Dukun Bayi
• Kegiatan KIE
Masyarakat melakukan kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) GSI melalui pengajian, penyuluhan bagi calon pengantin,posyandu, khotbah jum’at, bahkan di sumtra utara telah mengembangkan secara mandiri pembuatan billboard GSI sampai di desa.
Kegiatan KIE banyak mendapat dukungan dan bimbingan dari para petugas lapangan keluarga bverencana, petugas depag, dinas kesehatn dan sebagiannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Daftar Entri